Welcome !!

Read, only if you think those thing is important, else, go fuck yourself.

Rabu, 13 Juni 2012

Hujan Tak Berpetir


hari ini ke Unhas, pagi2 buta abis solat subuh, dingin, seperti biasanya.. Aku hanya mengenakan kaos, dan tentunya celana panjang hitam karet satu2nya yang slalu kupakai buat manggung, buat ngedate bo'ongan, buat pacaran bo'ongan, buat berpura-pura jatuh cinta.

Duduk juga Bayu Pratama, orang yang mungkin kurang lebih sama denganku, pengangguran, tak terawat, hampir homeless, yang terus berpura-pura tertawa saat smua hal yang kami percaya menghilang, orang yang kami percaya menghilang, satu2nya yang bisa memanusiakan kami.. Satu2nya yang bisa menangis tulus untuk kami, dan satu2nya yang bisa membuat kami para lelaki ini menangis.

Bayu tetap menggenggam HP Nokia E-63 yang bukan miliknya, sibuk bertwiter, saat aku berjalan menjauh, melewati pepohonan hijau, tempat dia memberiku roti isi keju, kesukaanku, di belinya di supermarket sesaat setelah dia tahu keju kesukaanku. Lucu, dia cekatan menyuapiku di tengah keramaian, di bawah pohon, di bawah hujan yang kian dingin mendekatkan kami.

 Bibirnya bergetar saat menceritakan masalahnya saat itu, kucium, dan kami tertangkap, satpam bajingan yang di bencinya kembali merusak suasana, aku hanya bisa berpura pura menangis berharap mereka mengerti. Hari itu masih hujan saat kami hujan2an dan berteduh kembali di halte merah dekat fakultas Hukum Unhas yang mempertemukan kami.

Dia basah oleh hujan yang slalu ia benci, bukan hujan yang membuatnya benci, petir. Dan saat aku tahu itu kunyanyikan untuknya lagu itu, boys like girl, Thunder. Agar dia tahu, dia petirku..

Sesaat lamunanku pecah oleh angsa2 danau Unhas yang berenang ke arahku, jauh sudah aku terhuyung oleh khayalku, berharap waktu mengajakku sekedar kembali. Merasakanmu, merasakan hujan dan petirku.
Aku pernah disini, di tempat ini, belajar, untuknya dan masa depan kami. Tapi kini, aku hanya pengangguran tanpa harapan yang bermain dengan masa lalu, dia tlah bahagia, senyumnya yang dulu hanya bisa di lukis olehku, tlah dengan benar2 sempurna di lukis olehnya. Dulu saat hujan turun, dulu saat dia bersepatu converse biru, kemeja biru, jaket hitam, dan jilbab hitam itu. Dulu saat hujan masih berpetir.. Kau menangis dan tertawa untukku, sekarang saat semua menjauh, aku sendiri, dan hujan tak lagi berpetir.